GubugJiwa

Mengeluh Atau Pura-Pura Baik-Baik Saja ?

Posting Komentar

 

Pura-Pura Baik-Baik Saja
    Menerima perasaan memanglah bukan hal yang mudah, terkadang kita menghindari atau menyangkal perasaan-perasaan negatif dengan pura-pura baik-baik saja.  Budaya kita seolah menuntut seseorang untuk selalu berpikiran positif terhadap semua peristiwa yang terjadi, hingga tanpa sadar menolak perasaan-peraan negatif yang muncul. Langsung saja kita bahas lebih lanjut tentang toxic positivity.

Apa Itu Toxic Positivity

    Istilah ini dapat kita artikan sebagai pola pikir atau cara kita dalam memandang sesuatu secara positif, sehingga sebuah permasalahan dapat dilewati dengan baik. Menurut Wood, dkk (2009) pernyataan diri positif dapat mengakibatkan dua dampak, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Bagi orang-orang tertentu mungkin saja dapat menimbulkan dampak yang positif, namun bagi sebagian orang lain, pernyataan diri positif bukan hanya tidak berdampak namun malah merugikan.
Tidak Bisa Disamaratakan
    Hal tersebut dapat terjadi karena terdapat jarak atau perbedaan antara diri ideal dan diri realitas yang terlalu jauh. Wah kembali lagi yah, bahkan toxic positivity ini juga bersifat subjektif karena pandangan tentang diri realita dan diri idela kita juga sudah berbeda satu sama lain. 
    Lebih lanjut, dalam Wood, dkk (2009) disebutkan bahwa pemikiran positif cenderung memotivasi orang-orang yang memiliki harga diri tinggi (orang yang sudah nyaman dengan diri mereka sendiri), namun dorongan ini juga cenderung kecil. 
    Masih ada kemungkinan pemikiran positif ini juga berdampak pada orang dengan harga diri yang rendah, namun dengan syarat pandangan akan dirinya yang dipertaruhkan tidak terlalu besar, atau tidak berbeda jauh dengan keyakinan yang dimiliki.
    Eisenstadt dan Leippe (1994, dalam Wood, dkk, 2009) menyatakan sebuah konseb bahwa orang yang menerima respon yang terlalu positif akan kesulitan untuk menyesuaikan dengan konsep diri mereka (diri realita), nah kesulitan ini menunjukkan perbedaan diri ideal dan aktual terasa menojol dan membuat perasaan menjadi lebih buruk. 
Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dan aku tidak seburuk yang kamu bayangkan” - Ali bin Abi Thalib.

Pura-Pura Baik-Baik Saja Atau Benar-Benar Baik-Baik Saja

    Entah dengan berbagai alasan, kita ingin terlihat selalu baik-baik saja. Beberapa penyebabnya adalah karena tidak ingin terlihat lemah atau mendapatkan respon yang negatif ketika bercerita kepada orang lain ketika sedang tidak baik-baik saja. Seolah kita harus selalu dalam keadaan prima kapanpun dan dimanapun.
    Namun, sebagai manusia normal, kita sudah terlanjur dianugerahi seperangkat sistem yang berada di dalam kepala yang mengatur hormon kita. Nah hormon ini nantinya juga akan berpengaruh pada suasana hati kita. Jadi wajar banget kalau kita kadang merasa sedih, marah, jijik, badmood, dan pastinya juga senang.
    Setelah menyadari bahwa wajar kita memiliki berbagai jenis emosi, lalu selanjutnya apa ? yaitu menerima perasaan atau emosi itu. Setidaknya ketika sedang mengalami emosi tersebut kita terima dengan sadar, "oh sekarang aku marah", "oh sekarang aku sedih", "oh begini ya rasanya senang". 
    Tinggal bagaimana cara kita menyikapi emosi tersebut. Bagaimana cara kita menempatkan diri. Tidak perlu diumumkan kepada dunia juga ketika sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi tidak apa-apa untuk memberikan pengertian kepada orang terdekat bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dengan cara yang tidak menyakiti dan menyinggung siapapun.
    Akan tetapi jangan terlalu banyak berharap, seperti sebuah kata bahwa "kecewa timbul karena terlalu berharap", hal ini juga berlaku disini. Kita tidak bisa memaksakan orang lain mengerti apa yang sedang kita alami dan kita rasakan. Karena respon orang lain, apa yang dilakukan oleh orang lain, apa yang dipikirkan oleh orang lain berada di luar kendali kita. 

    "Aku sedang tidak baik-baik saja, aku menerima perasaan ini, dan yang aku butuhkan adalah ......................." 

    Begitu pula yang dirasakan oleh orang lain, ketika tidak sengaja orang tersebut menyinggung kita atau menyakiti kita, jangan-jangan orang tersebut juga sedang tidak baik-baik saja namun sedang pura-pura baik-baik saja ?

Mengeluh atau Menerima ?

    Menerima atau mengeluh ? kurasa kita butuh keduanya.. 
    Pernah nggak sih ngerasa setelah kita mengeluh itu legaa banget ? Bisa juga kita ibaratkan sebuah proses menuju ke penerimaan itu kita perlu membuang "sampah" yang ada di dalam kepala kita dengan cara mengeluh itu tadi, atau sambat juga boleh. Namun, ada satu syarat yang harus dipenuhi nih ketika mau mengeluh, yaitu mengeluh pada orang dan situasi yang tepat.
Teori Penerimaan
    Nah ada gagasan yang menarik dari Eagly & Chaiken (1993, dalam Wood,dkk 2009) yaitu "Garis Lintang Penerimaan". Individu cenderung menerima pesan positif atau mendukung yang mirip dengan konsep dirinya. Contohnya kalimat "Saya memilih hadiah yang baik untuk orang-orang" (lebih spesifik dan minim resiko karena dapat diusahakan) lebih dapat diterima oleh seseorang dibandingkan kalimat "Saya orang yang murah hati" (bersifat global dan cenderung sangat positif, atau lebih positif dibandingkan dengan kalimat yang pertama).
    Pesan-pesan lain yang berada di luar garis lintang penerimaan ini cenderung menemui perlawanan (baik secara sadar atau tidak sadar), sehingga seseorang seolah membohongi perasaannya sendiri dengan pura-pura baik-baik saja.

Cukup Dengan Tidak Berlebihan

    Seperti yang sudah kita ketahui bahwa yang berlebihan lebih baik kita hindari. Ungkapan tersebut tidak hanya berlaku untuk hal-hal negatif, namun juga pada hal-hal yang positif. Yuk bersama-sama belajar mengontrol emosi dan pemikiran kita agar dapat bertumbuh bersama. 

    Sekian yah pembahasan kita tentang toxic positivy, jadi kita boleh berpura-pura baik-baik saja namun jika sudah menemukan situasi dan orang yang tepat, yuk ngeluh dan sambat bareng. 

Referensi

Wood, J. V., Perunovic, W. E., & Lee, J. W. (2009). Positive Self-Statements: Power for Some, Peril for Other. Psychological Science, 860-866.

    Terimakasih sudah membaca sampai akhir... Semoga bermanfaat...

santiriksa
Sedang belajar ngeblog II Yuk Follow IG @gubug_jiwa atau klik logo Instagram di halaman paling bawah

Related Posts

Posting Komentar